Informasi Umum Seputar Film Terbaru Ayat-Ayat Cinta di Bioskop
- Genre: Drama | Romance
- Tanggal Rilis: 28 February 2008 (Indonesia)
Saksikan Film Terbaru di Bioskop Kesayangan anda. Tonton Film Ayat-Ayat Cinta di Bioskop Jakarta Bandung Medan Surabaya Semarang Makasar Denpasar di Bioskop kesayangan di Kota Anda.
Sutradara, Aktris, dan Aktor Pemain Film Ayat-Ayat Cinta di Bioskop
- Sutradara: Hanung Bramantyo
- Penulis: Salman Aristo, Ginatri S. Noer
- Pemain: Fedi Nuril, Rianti Cartwright and Dennis Adhiswara
Jalan Cerita / Sinopsis / Review
Film ini diangkat dari novel
best seller karya Habiburrahman El Shirazy atau biasa disapa Kang Abik,
novelis lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Novel tersebut
berkisah tentang cinta dan telah banyak menginspirasi banyak remaja
muslim. Bukan sekedar kisah cinta biasa tapi mengenai upaya menghadapi
berbagai problema cinta secara Islami. Setelah mengalami penundaan
tayang yang sebelumnya direncanakan pada Idul Adha 2007, akhirnya
AYAT-AYAT CINTA (AAC) tayang mulai 28 Februari 2008.
Film yang dibintangi oleh Fedi Nuril, Rianti Cartwright, Carissa Putri,
Zaskia Adya Mecca, dan Melanie Putria ini disutradarai oleh Hanung
Bramantyo. Tokoh utamanya, Fahri bin Abdillah diamanahkan pada Fedi
Nuril. Pemilihan Fedi sebagai tokoh utama melalui proses tarik-ulur
karena sosok Fedi yang tidak 'sesuci' Fahri mengundang kesangsian di
kalangan pembaca fanatik AAC.
Fahri diceritakan sebagai pelajar Indonesia yang berusaha menggapai
gelar masternya di Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir. Hidup Fahri
dikejar oleh target karena keluarganya telah mengorbankan segalanya,
termasuk sawah warisan kakeknya, agar dia bisa sekolah di Mesir. Fahri
berusaha memenuhi target yang digambarkan dalam peta hidupnya, berjuang
melawan panas-debu Mesir dan keterbatasan dana. Fahri bertekad
menyelesaikan masternya dalam dua tahun, program doktor dalam empat
tahun, dan empat tahun kemudian menjadi guru besar.
Fahri juga memiliki target untuk menikah dengan perempuan yang shalehah
untuk menyempurnakan agamanya saat dia menyelesaikan tesis magister. Dan
waktunya semakin dekat. Sayang Fahri yang hidup 'lurus' sulit dekat
dengan wanita, meski ada beberapa wanita yang ada di sekitar kisah
hidupnya.
Ada Maria Girgis (Carissa Putri), tetangga satu flat yang beragama
Kristen Koptik tapi mengagumi Islam dan senang membaca Al Quran, bahkan
hafal surat Maryam. Tak hanya Islam, Maria juga mengagumi Fahri yang
kemudian berubah menjadi cinta. Sayang rasa cinta itu hanya tertumpah di
buku hariannya.
Ada pula rekan senegara Fahri, Nurul (Melanie Putria) anak tunggal
seorang kyai Jawa Timur yang juga menuntut ilmu di Al Azhar. Nurul yang
pintar dan cantik, juga ketua Wihdah, sebenarnya mencintai Fahri, namun
tak pernah memiliki keberanian untuk mengungkapkan atau memberi sinyal
cintanya. Demikian pula dengan Fahri yang menaruh hati pada Nurul tapi
merasa minder karena dirinya hanya anak petani miskin.
Kemudian ada Noura (Zaskia Adya Mecca), tetangga depan flat Fahri,
perempuan cantik yang selalu disiksa oleh ayahnya, Bahadur. Fahri yang
berempati dengan Noura akhirnya menolong Noura lepas dari siksaan
ayahnya dengan bantuan Maria dan Nurul. Noura yang awalnya digambarkan
sebagai perempuan baik-baik, akhirnya menjadi tokoh antagonis di film
ini, setelah Noura menuduh Fahri memperkosanya. Tuduhan itu membawa
Fahri mengalami 'petualangan' dengan aparat penegak hukum di Mesir,
termasuk penjaranya.
Satu lagi, gadis yang paling istimewa. Fahri mengenalnya di metro. Saat
itu Fahri membela Islam atas tuduhan tuduhan kolot dan kaku. Aisha
(Rianti Cartwright), gadis Turki-Jerman berdarah Palestina, pun jatuh
cinta pada Fahri. Dan Fahri juga tidak bisa membohongi hatinya.
Pada siapa Fahri akan melabuhkan hatinya? Dapatkah dia menjalani segala
rasa cinta dan problema yang mengiringinya dengan tetap berpegang teguh
pada Islam yang diyakininya?
Sejak awal rencana pembuatan film ini para penggemar fanatik novel AAC
tidak yakin Hanung dapat membuat film ini sebagus novelnya. Bahkan Kang
Abik tak berharap banyak atas hasil akhir film adaptasi dari novelnya,
karena imajinasi tulisan jauh lebih luas daripada imajinasi visual.
Banyak juga yang beranggapan Zaskia tidak cocok berperan sebagai Noura,
tapi lebih sesuai sebagai Nurul.
Yang namanya film adaptasi pasti tak luput dari pembandingan dengan
novel yang diadaptasi. Bagi penggemar Fahri siap-siap kecewa, karena
Fahri di film tak sesempurna Fahri di novel. Fahri di film tidak
menguasai beberapa keahlian seperti halnya di novel. Karena itulah,
Fahri di film terlihat jauh lebih manusiawi dibandingkan novelnya.
Sayangnya, banyak detail di novel yang dilewatkan oleh Hanung, sehingga
terasa ada yang kurang saat menontonnya. Hanung juga lebih banyak
memberi porsi pada perilaku 'poligami' Fahri. Padahal novel Kang Abik
berkisah lebih (jauh lebih dalam) dari hanya persoalan 'poligami'.
Satu lagi yang paling mengganjal adalah kemampuan orang-orang Mesir
dalam memahami dan berbicara bahasa Indonesia. Film yang bersetting di
Mesir ini lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Saat menontonnya
tak ayal ingatan jatuh ke film James Bond tahun 1970-an yang mana
orang-orang Uni Soviet sangat fasih berbahasa Inggris.
Meski demikian, sekali lagi, Hanung menunjukkan k*****as tangan
dinginnya dalam membesut film untuk kalangan anak muda. Meski ada
beberapa yang berbeda dengan novelnya, namun penceritaan Hanung sangat
cimaik, khas anak muda, serta mudah diikuti bagi yang belum pernah baca
novelnya. Beberapa penambahan, seperti adegan pemukulan Fahri di Metro,
kisah tabrak lari Maria, justru menambah greget dan menambal 'lubang'
dari novel Kang Abik.
Kualitas: DVDRip
Ukuran File: 600 MB
Download File :
Part 1
Part 2
Part 3